Saturday, 1 November 2014

Sakit

   Terkadang ada satu titik dimana menjadi baik bukanlah pilihan yang tepat, ada satu titik pemeran utama hanya menjadi seorang figuran, satu titikyang kuat menjadi hancur lebur. Tapi yang terutama di satu titik saat sakit menjadi seorang sahabat. Dia merangkulmu mengatakan bahwa kamu bisa, dia meyakinkan seberapa kuat kamu untuk menghadapi dia dan dia meminta maaf karena harus berdiam di samping mu dan menemani kamu. Terkadang sakit itu tidak seburuk yang kita kira. Kita tidak bisa memilih ingin menjadi apa kita. Sakit hanya ingin menemani kita, mungkin agar tidak lagi kita merasa kalau kita itu sendirian, sekalipun memang itu yang terjadi.
   Kata orang cinta itu baik. Apa yang terjadi saat kita menyadari bahwa sakit itu baik dan cinta itu adalah hal yang sangat jahat? Ada yang mengatakan cinta itu setia, lalu kenapa dia pergi menjauh dari kita? Ada yang bilang sakit itu jahat, kenapa dia menemani kita disaat cinta itu pergi? 
   Gak lagi bisa dipungkiri betapa hebat pencipta manusia itu. Bayangkan saja kalau hati yang kita miliki dibuat oleh negara bamboo, mungkin hati kita udah entahlah apa nasibnya. Ya, terkadang mencintai seseorang membuat kita sadar betapa bodoh diri kita... Di saat kita lupa apa arti sahabat hanya karena seseorang yang bahkan kita tau, dia gak akan pernah jadi milik kita, karena dia gak akan pernah mau. Hari ini aku belajar, seberapa besar rasa takut yang harus aku hadapi, sendiri. Karena gak ada lagi dia yang mengatakan menyayangi kita.
    Terkadang kata itu hanya dapat bergantumg sebatas ujung lidah. Tidak, sebatas sms, tepatnya. Aku berpikir apa rasa sakit ini bisa membawa aku terbang lebih jauh? Karena aku terlalu lelah untuk berjalan sendiri menapaki jalan yang masih panjang itu, jalan itu terlalu gelap dan aku hanya memilih membawa satu lentera yang akhirnya memilih untuk meninggalkan aku. Seberapa bodohnya aku saat ada banyak lentera dan aku hanya mengambil satu, hanya karena aku mencintai cahayanya... Terkadang pula aku tidak tau dan bahkan tidak pernah mengerti apa rencana Tuhan. Apa arti mempertemukan aku dengan sakit dan cinta itu sendiri. Ada yang bilang selalu ada sesuatu yang tersimpan rapat dalam kalimat baik - baik saja. Aku bahkan tidak lagi bisa memungkirinya. 
   Hari ini tembok pertahanan aku roboh, bodohnya aku yang merobohkannya, aku membiarkan cinta itu memberikan ku rasa sakit. Salah ku sudah pasti, aku yang bisa dengan senang hati mengajar sebagian anak - anak untuk selalu mempunyai mimpi, selalu tersenyum dan selalu kuat mengatasi masalahnya. Dan saat ini aku satu - satunya orang yang tidak dapat mengatasi rasa sakit itu. Seandainya ada bintang jatuh aku mungkin berharap dapat diberikan sepasang sayap supaya dapat merasakan yang dikatakan sebagai apa itu tempat tanpa sakit dan tangis, hanya tersisa kebahagiaan dan senyuman. Hari ini aku belajar banyak, aku belajar memperjuangkan sesuatu yang aku sayang dan walaupun itu sia - sia, aku tau mungkin sudah seharusnya aku berhenti bersikap bodoh dari berbulan - bulan yang lalu. Berhenti mencintai dia yang mungkin tidak pernah menyayangi aku. 
    Banyak memori yang terlalu berat untuk aku hapus, puluhan foto dia baik itu sendiri, bersama aku atau teman - temannya. Ya, aku sangat mencintai manusia itu. Dia selalu bisa membuat sesuatu di dalam ku seakan meluap luap... Terlalu banyak sejarah yang diukir di hati, seakan - akan hati itu sebuah candi. Aku tidak tau apakah aku bisa melupakan senyumnya, suara tawanya dan matanya. Aku selalu mencintai sepasang bola mata coklat yang dibingkai oleh bulu mata yang lentik. Dia itu manusia yang mengajarkan aku tentang hal - hal yang membuat aku tau bagaimana indahnya alam. Dia yang mengenalkan aku negeri di atas awan, walaupun hanya sebatas gambar, aku gak akan pernah mau jika diajaknya pergi melihat langsung, aku cukup sadar seberapa aku akan menjadi beban saat itu hahaha... Ya aku hanya berharap suatu saat nanti dia sadar seberapa aku mencintai dia, sekalipun saat itu aku sudah pergi... Mungkin ke belahan dunia lainnya untuk mengejar beasiswa atau kota yang jauh dari ingar bingar ibu kota ini.

No comments:

Post a Comment