Sunday, 12 October 2014

Newly born fresh from the broken heart

   Gue tau apa yang ada di otak kalian disaat ngebaca judulnya. Gue tau kalo judulnya antara bikin sakit banget atau juga bikin gue keliatan patut dikasianin haha... Don't ask me why do I choose that title okay. Hmmm... Cinta, lagi - lagi cinta yang ngedorong gue untuk nulis ini di blog gue lagi. Aneh sih, mungkin untuk saat ini gue ngebenci cinta sebesar gue ngebenci apa itu rokok. Cinta itu kayak msg mungkin bikin nagih tapi juga bikin kita jadi bego. Cinta itu kayak rokok cuma bisa nyenengin sesaat terus dia ninggalin penyakit. Katanya sakit itu ngebikin kita hidup, kita merasakan sakit itu tanda bahwa kita masih hidup, seolah - olah mereka yang mengucapkan teori itu sudah pernah merasakan kematian. Dari mana dia tau bahwa kita tidak bisa merasakan apa itu sakit disaat kita sudah mati? 
    Mungkin patah hati itu biasa. Tapi, apa yang akan kalian rasakan disaat kalian berharap kepada seseorang lalu dia membawamu terbang jauhhhhh tinggi ke langit biru yang indah juga cerah lalu kamu dijatuhkan lagi ke bumi, tidak berhenti sampai disitu dia mengulangi perbuatannya selama berkali - kali. Seolah - olah dia tidak cukup puas ngeliat kamu hancur dia tidak cukup hanya melihat kamu kesakitan atau sekarat dia ingin kamu mati. Dia mau ngebunuh kamu secara perlahan. Cara paling mudah untuk membunuh orang itu bukan dengan pisau atau senjata api, cukup dengan beri dia cinta lalu kamu pergi membiarkan kamu mencintai sebuah bayangan. Seorang manusia yang selalu aku cintai selama setahun ini, seorang cowok yang selalu ada di benakku selama setahun ini, cuma dia. Manusia yang aku kagumi karena kebaikannya, kepintarannya dan seberapa dia mandiri juga bijak. Sekarang aku meragukan semua itu. Apakah dia yang bijak akan membunuh orang yang mencintainya dengan tulus? Apakah dia yang baik membunuh orang yang kata disayanginya? Pernahkah kalian merasakan bahwa mungkin kematian lebih indah dari hidup di dunia? Seandainya ada yang bisa menjanjikan kalau kematian itu membuat kita tidak merasakan sakit mungkin aku memilih untuk mati. Berkumpul dengan mereka yang menyayangi aku. 
   Terlalu sakit mungkin. Aku ingin berhenti menghubungi dia tapi apa aku bisa? Itu sama saja seperti memaksa aku untuk mengiris kulit ku sendiri dan merasakan sakit itu sendiri. Terkadang aku meragukan apakah benar Tuhan itu adil? Aneh mungkin, disaat cinta mengalahkan kepercayaan ya aku memang sepicik itu. Aku hanya ingin mencoba berdiri, aku terlalu capek untuk mencintai manusia yang hanya ingin membunuh aku secara perlahan, aku sudah terlalu lelah untuk menunggu dan menangisi dia setiap malam selama tujuh bulan.

No comments:

Post a Comment